Kebijakan ekonomi Masa demokrasi terpimpin
a. Kebijakan
gunting Syafruddin
19 maret 1950
kebijakan
Gunting Syafruddin dikeluarkan, dalam aturan tersebut semua uang kertas yang
bernilai RP.5.00 keatas dipotong nilainya menjadi setengah akibatnya pemerintah
berhasil menarik sekitar RP.1,5 miliar. Dan dengan uang tersebut pemerintah
mampu membayar sebahagian utangnya kepada bank sentral De Javasche Bank. Untuk
membiyai deficit anggaran.
b. Nasionalisasi
de Javasche Bank
1.1
Oktober 1827
Sebelum
bangsa Indonesia merdeka, De Javasche Bank telah didirikan oleh kalangan
Belanda dan tetap melakukan aktivitas, meskipun Belanda mengakui kedaulatan dan
kemerdekaan bangsa Indonesia dalam bentuk RIS. Dengan tidak berubahnya bentuk
yuridis dan status bank ini dan fungsinya pun tetap sama. Demikian pula
personalia kepemimpinanya, hamper seluruhnya masih dijabat oleh belanda.
2.
Akhir Tahun 1951
Kebijaksanaan
ekonomi keungan Indonesia ditinjau kembali sesudah menasionalisasi De Javasche
Bank menjadi BANK INDONESIA. Sejak tahun tersebut penerimaan pemerintah mulai
berkurang disebabkan oleh menurunya volume ekspor sehingga dalam rangka
menaikan pendapatan pemerintah menurunkan biaya ekspor dan melakukan
penghematan. Oleh karena itu, kabinet Sukiman mengadakan program nasionalisasi
De Javasche Bank yang sebelumnya adalah milik Belanda menjadi milik Indonesia
3.
19 Juni 1951
Terbentuknya
panitia nasionalisasi DE Javasche Bank berdasarkan Keputusan Pemerintah no. 118 tahun 1951
4.
12 Juni 1951
Diangkatnya
Mr. Syafruddin Prawiranegara sebagai presiden De Javasche Bank berdasarkan
Kepres RI no 123 tahun 1951.
5.
15 Desember 1951
Diumumkan
UU No.24 tahun 1951 tentang nasionalisasi Javasche Bank Bank menjadi Bank
Indonesia yang berfungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
6.
1 Juli 1953
Mulai
diberlakukannya Undang-undang Pokok Indonesia Bank Indonesia No. 11 /1953 dan
dimuatnya dalam lembaran Negara No.40. Undang-undang Pokok Bank Indonesia No.
11/1953. Dan dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut makin kuatlah posisi
Bank Indonesia sebagai bank sentral RI. Jabatan presiden De Javsche Bank
diganti dengan Gubernur Bank Indonesia.
c. Sistem
Ekonomi Gerakan Benteng
1.
April 1950-1953
Program
Benteng dimulai dan inti program benteng adalah kebijaksanaan untuk melindungi
pengusaha pribumi agar dapat berpacu dalam pengembangan ekonomi nasional. 700
pengusaha local mendapat kredit dari Program Benteng karena pengusaha
pribumilah yang dapat membangun perekonomian nasional. Adapun tujuan gerakan
Benteng antara lain.
I.
Menumbuhkan
dan membina jiwa wiraswasta bangsa Indonesia serta menumbuhkan potensi ekonomi
nasional.
II.
Mendorong para importer nasional agar mampu
bersaing dengan importer lainnya.
III.
Membatasi
impor barang dan memberi lisensi pada para importer Indonesia
IV.
Memberi
bantuan dalam bentuk kredit kepada importer Indonesia
2.
Gagasan Soemitro
I.
Dalam
mengubah system perekonomian colonial yang sudah berakar adalah dengan
menjalankan program pencanangan rencana urgensi perekonomian (RUP) yang sering
disebut dengan Plan Soemitro. Wujud dari RUP tersebut dicanangkan program
Benteng
II.
Hambatan
dalam pelakwanaannya
a.
Pemberian
lisensi impor banyak yang menyalahgunakan. Mereka yang menerima lisensi
bukanlah orang-orang yang memiliki potensi kewirausahaan tinggi melainkan,
orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan birokrat yang berwenang
mendistribusikan lisensi berupa kredit
b.
Penyelewengan
yang lain dalam pelaksanaan politik benteng adalah perusahaan Ali-Baba, yaitu
dengan mendaftarkan perusahaan yang sesungguhnya milik orang cina dengan
menggunakan nama orang pribumi. Orang Indonesia hanya digunakan untuk
memperoleh lisensi pada kenyataannya yang menjalankan lisensi tersebut adalah
perusahaan China
d. Gerakan
Asaat
1.
13 Februari 1956
Sesudah
pemilihan umum I yang ditunjuk oleh presiden Soekarno menjadi perdana menteri
adalah Mr. Ali Sastromijoyo. Dalam masalah pengembalian Irian Barat kepada
Indonesia, Belanda belum bersedia membicarakannya. Perundingan dilakukan oleh kabinet
Burhanuddin Harahap. Selanjutnya, perundingan dengan Belanda tentang Irian
Barat memakan waktu lama dan berlarut-larut.. akhirnya pada tanggal 13 February
1956 memutuskan hubungan Uni Indonesia –Belanda secara sepihak. Sebagai akibat
dari pemutusan hubungan tersebut maka perusahaan Belanda yang berada di
Indonesia diharuskan di jual. Karena pengusaha china mempunyai banyak modal
maka perusahaan belanda dibeli oleh pengusaha China. Hal ini menimbulkan
reaksi-reaksi yang hebat dikalangan pribumi maupun dikalangan masyarakat.
2.
19 Maret 1956
Mr.
Asaat didepan kongres nasional Importir Indonesia di Surabaya mengatakan
perlunya pemerintah mengeluarkan peraturan untuk melindungi pengusaha-pengusaha
nasional pribumi karena pengusaha-pengusaha pribumi tidak mampu bersaing dengan
pengusaha cina. Pernyataan Assat ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat
sehingga lahirlah gerakaan Assat . pemerintah menanggapi Gerakan Assat dengan
mengeluarkan suatu pernyataan yang berisi kesanggupan akan memberikan bantuan
kepada perusahaan-perusahaan yang 100 persen dimiliki oleh pribumi. Selanjutnya,
sentiment anti-Cina timbul dikalangan masyarakat dalan bentuk tindakan rasialis
seperti perusakan hak milik orang China dan perkelahian yang meletus di
Jakarta, Bandung, semarang, dan Solo.
3.
19 April 1957
Masalah
anti-Cina tersebut merupakan salah satu penyebab jatuhnya kabinet Ali.
Selanjutnya, kabinet Djuanda dibentuk dan harus menyelesaikan berbagai
persoalan ekonomi yang ditinggalkan oleh Asaat.
e. Nasionalisasi
Perusahaan Belanda
1.
18 November 1957
Diadakannya
rapat umum di Jakarta, namun disertai dengan aksi pemogokan total oleh kaum
kaum buruh yang bekerja diperusahaan-perusahaan Belanda.
2.
1957
Pemerintah
mengambil tindakan, antara lain sebagai berikut;
I.
Melarang
beredarnya semua terbitan dan film yang berbahasa Belanda
II.
Melarang
maskapai penerbangan Belanda KLM mendarat dan terbang diatas wilayah Indonesia
III.
Mulai
tanggal 5 Desember 1957 semua kegiatan Konsul Belanda di Indonesia diminta
dihentikan.
Selanjutnya, terjadi
pengembilalihan berbagai perusahaan milik Belanda yang diatur dengan Peraturan
Pemerintah No.23 tahun 1958. Pada saat itu, Negara dalam keadaan darurat
sehingga militer berperan besar dalam program nasionalisasi.
3.
Beberapa contoh
perusahaan yang diambil alih oleh Indonesia antara lain perusahaan Nederlandsche
Handel Maatschappij (namanya kemudian diganti dengan Bank Dagang Negara),
perusahaan Philips dan beberapa perusahan perkebunan.
f.
Pelaksanaan pembangunan Nasional
1.
15 Agustus 1959
Dewan
Perancang Nasional dibentuk, tugas dewan tersebut mempersiapkan Rancangan
Undang-Undang Pembangunan Nasional serta menilai penyelenggaraan pembangunan
itu. Dewan Perancang nasional diketuai oleh Mohammad Yamin. Selanjutnya,
Dapernas berhasil menyusun Rancangan Dasar UU Pembangunan Nasional sementara
berencana tahap 1960-1969. Rancangan UU tersebut disetujui MPRS dan diterapkan
dalam TAP MPRS no. 2/MPRS/1960
g. Devaluasi
Mata Uang Rupiah
1.24
Agustus 1959
Kebijakan
Devaluasi Mata Uang Rupiah dilaksanakan, dalam kebijakan tersebut, pemerintah
mendevaluasi mata uang RP. 1.000,00 dan RP. 500,00 menjadi Rp 100,00 dan Rp 50,00.
Tujuan kebijakan devaluasi ini adalah meningkatkan nilai rupiah dan melindungi
tabungan rakyat. Pemerintah juga melakukan pembekuan simpanan di bank yang
jumlahnya lebih Rp. 25.000,00. Namun tindakan pemerintah ini tidak menurunkan
laju inflasi yang sangat tinggi.
h. Deklarasi
Ekonomi
1.
28 Maret 1963
Presiden
Soekarno mengumumkan langkah-langkah untuk menanggulangi masalah ekonomi
nasional yang dikenal dengan DEKON.
2.
26 Mei 1963
Ditindaklanjuti
dengan dikeluarkannya serangkaian peraturan mengenai ekspor, Impor, dan harga-harga.
Semua peraturan tersebut ternyata tidak mampu mengatasi permasalahan ekonomi nasional
karena inflasi tidak mampu diturunkan. Akibatnya beban rakyat semakin meningkat
akibat tingginya harga-harga kebutuhan pokok. Kegagalan memperbaiki ekonomi nasional
disebabkan gagalnya pengajuan pinjaman kepada IMF sebesar 400 juta dolar AS dan
kesulitan keungan akibat pemutusan hubungan dengaan Singapura dan Malaysia.
i.
Kondisi ekonomi pada masa Akhir
Demokrasi Terpimpin
1.
1965
Laju
inflasi mencapai 650 %, hal ini disebabkan pemerintah terus mencetak uang
kertas tanpa memperhitungkan akibatnya. Sehingga pada tahun tersebut kehidupan
perekonomian berjalan secara tidak terkendali karena tidak adanya aturan-aturan
yang jelas. Selain itu presiden soekarno melakukan tindakan-tindakan yang
justru menyalahi segala ketentuan yang mengakibatkan merosotnya ekonomi
nasional. Tindakan Presiden yang paling
mengacaukan system ekonomi adalah usaha menghimpun dana khusus yang sepenuhnya
dikuasai oleh Presiden Soekarno yang diberi nama Dana Revolusi. Untuk mengumpulkan
dana Revolusi, Presiden menarik sumbangan dari orang-orang yang diberi Izin
Impor dengan system khusus.
Dalam praktiknya, barang-barang yang
diimpor adalah barang-barang yang tidak bermanfaat bagi rakyat dan
barang-barang yang mudah menjadi bahan spekulasi dalam perdagangan.
Selanjutnya, presiden Soekarno
mengeluarkan keputusan yang memungkinkan menteri keuangan menempuh kebijakan
yang menyimpang dari Undang-undang Pokok Bank Indonesia dengan cara
menginsinkan BI tidak mengumumkan Neraca Bank Indonesia.
Akibatnya,
BI tidak dapat lagi menjalankan fungsinya untuk mengatur peredaran uang. Karena
neraca BI tidak diumumkan maka timbul usaha-usaha spekulasi dalam dunis
perdagangan. Pemerintah juga tidak melakukan pengendalian yang ketat terhadap
anggaran belanja Negara sehingga timbul difisit anggaran yang semakin besar.
What is a good sign to be a casino? - DrMCD
BalasHapusA good sign to be a casino is to 충주 출장샵 be honest: we're very concerned 포항 출장샵 about the money. I've been a 동두천 출장샵 casino 수원 출장마사지 player 김제 출장샵 for 5 years, and I have