SULAWASI SELATAN DIATAS TIGA PINTU PERADABAN By: D.T. Ramadan

Sekilas Sulawesi Selatan merupakan sebuah propinsi yang terletak di bagian selatan pulau Sulawesi yang memiliki banyak kecamatan dan desa yang ratusan jumlahnya. Sebut saja Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Wajo, Pinrang, Enrekang, Mamasa, Luwu, Toraja, lalu turun melalui kecamatan Bone, Sinjai, Bulukumba, Banthaeng, Takalar, Jenneponto, Gowa, hingga Makassar, selain dari itu adapula sebuah pulau mengapit didekatnya yaitu kecamatan selayar. selain dari itu masing-masing kecamatan terdapat desa yang berada di bawah otonominya masing-masing.
Begitu banyaknya kecamatan yang hidup di pulau Sulawesi Selatan hingga membuat kita ingin mengetahui wajah pulau ini dan dalam hasil Research Sulawsei Selatan sudah melalui peradaban sebanyak 3 kali yaitu peradaban Naskah I La Galigo, peradaban masa kolonialis penjajah, hingga masa proklamasi kemerdekaan hingga sekarang. Untuk mengungkapkan itu semua diperlukan sebuah pemaparan yang jelas dari setiap peradaban itu semua. Sebagai gambaran peradaban pertama dikenal peristiwa yang ada merupakan peristiwa kerajaan sastra dimana para tokoh-tokoh sejarah yang hidup pada zamannya itu memiliki ilmu yang sangat luar biasa hebatnya ada yang memiliki kemampuan kebal senjata tajam, ada yang mampu melayang keudara, sampai-sampai ada yang mampu berpindah tempat dari satu tempat ketempat tertentu. Anggap saja seorang To Manurung yang dianggap sebagai orang yang sakti yang mampu menghubungkan antara dunia manusia dengan alam dewa. To Manurung sangat didewakan hingga diangkat sebagai raja dari kerajaan tertentu baik mereka berada pada posisi raja kerajaan Luwu baik berada pada posisi raja dikerajaan Bone atau berada pada posisi raja kerajaan Gowa dan Tallo. Semua itu memungkingkan bagi To Manurung itu sendiri karena mereka menganggap dirinya berada pada tingkat yang lebih tinggi dibangdingkan oleh manusia biasa.
To Manurung sendiri memliki banyak versi ada yang berasal dari Luwu, ada yang berasal dari Bone, dan ada yang tepat turun pada kerajaan yang dulu dikepalai oleh Batara Guru. To Manurung sendiri memiliki versi nama masing-masing tergantung dimana mereka diturunkan. Sawerigading misalnya yang tepat berada pada kerajaan Luwu yang sampai sekarang nama ini masih diabadikan hingga sekarang, Sawerigading dalam sebuah cerita memiliki kerajaan yang luas meliputi wilayah Luwu itu sendiri, Wajo hingga Pare-Pare. Raja Luwu sendiri memiliki saudara kembar bernama We Tenriabeng yang menurut cerita Sawerigading ingin menjadikannya sebagai istri namun itu melanggar ketentuan adat sebab pernikahan antara saudara kandung tidak dibenarkan.
Kerajaan Gowa diperintah oleh seorang raja yang disebut Sombaya. Selain dari raja Gowa yang pertama, tahta Kerajaan Gowa tidak pernah diduduki oleh seorang wanita.. Menurut cerita yang tersebut dalam buku sejarah Gowa, Tumanurung turun dari langit. Karena baginda turun dari daerah Tamalate di Gowa, maka baginda sering pula disebut Tumanurung ri Tamalate, artinya orang yang turun di Tammalate. Jadi sungguhpun raja Gowa yang pertama adalah seoarang wanita, namun setelah bagindah wafat, tidak pernah lagi tahta Kerajaan Gowa diduduki oleh seorang wanita. Rupanya sejak itu seorang wanita tidak dapat menduduki tahta Kerajaan Gowa.
Lalu adapula Tomanurung yang memang turun dari Gowa Tallo dikenal Batara Guru yang juga memiliki kerajaan wilayah makassar dan sekitarnya. Sedangkan To Manurung yang diturunkan di Bone yang tepat diturunkan diatas bukit tinggi daerah gojeng mereka semua diangkat menjadi symbol kerajaan masing-masing dan mereka semua diberikan kekuasaan sepenuhnya oleh masyarakat. Walau demikian kita tidak mampu mengatakan peristiwa itu benar. Namun tak dapat kita pungkiri bahwa masa itu diceritakan dalam naskah I Lagaligo.
Peradaban yang kedua adalah masa kolonialisasi penjajah dimana pada masa itu kaum imperialisme barat sudah mampu menguasai dan merebut serta menanamkan kekuasaannya di era kerajaan-kerajaan bugis dan makassar. Masa ini merupakan masa dimana penduduk pribumi yang ada didalamanya baik dari suku bugis, suku mangkassar, Mandar dan Tanah Toraja. Karena mereka yang tak pernah mengenal pendidikan akhirnya dibodohi oleh kaum terpelajar asing.
Kaum imperialis sajak dulu mampu menguasai ilmu pengetahuan dibangdingkan oleh suku-suku bangsa bugis dan dengan kemampuannya itulah mereka mempermainkan suku bangsa bugis. Mereka menganggap suku-suku bangsa bugis dengan sebutan kaum pribumi yang tidak lebih dari seorang pesuruh yang tidak tahu apa-apa. Kaum imperialis mangetahui bahwa keberadaan mereka dianggap sebagai To Manurung yang walaupun mereka secara Fisik sangat berbeda jauh namun hal ini dipercaya begitu saja sebab mereka menggunakan alat dari atas langit yang mampu berjalan diatas air laut.
Hal itu mengangkat derajat kaum penjajah menjadi diatas langit, menyadari hal itu kaum imperialis semakin berbangga mereka menyadari bahwa mereka sangat diagung-agungkan mereka jelas percaya bahwa suatu saat mereka akan mampu menguasai daerah ini. Maka mulailah mereka menanamkan kerajaannya sendiri mereka sangat cerdik dibangdingkan puang-puang dulu. Mereka lebih pada bagaimana mereka mampu membuka pengaruhnya terhadap kaum pribumi. Mulai dari menanamkan kebudayaannya diikut sertakan kepemerintahaannya. dan itu berlangsung sangat lama hingga mereka mampu menguasai penduduk pribumi sepenuhnya.
Jadilah mereka menguasai penduduk pribumi tersebut. Dengan modal hasil penelitiannya tersebut ternyata mereka mampu menguasai penduduk pribumi dan ternyata yang mampu mneguasai mereka yaitu karena kepercayaannya terhadap nenek moyang hingga mereka tidak pernah peduli pendidikan mereka dan mereka sangat bodoh tidak mau menyadari hal itu.
Kemudian masuklah pada peradaban yang ketiga masa peradaban dimana penjajah melepaskan kekuasaan meraka di tanah bugis-makassar. Masa peradaban ini ditandai kemenangan kaum pribumi mendududuki tempat yang menjadi hak mereka selama berabad-abad. Masa kemerdekaan yang ditandai dengan pembacaan proklamasi oleh tokoh-tokoh pejuang Indonesia. Tokoh yang dimaksud adalah kaum terpelajar yang berhasil mendapatkan pendidikan luar negeri dan diasuh oleh Negara tersebut. Menyadari hal itu bisa dikatakan bahwa masa penjajahan kaum imperialis kedalam kaum bangsa Sulawesi Selatan merupakan timbal balik atas kekejaman mereka yang telah menguras beberapa kekayaan yang sebenarnya kekayaan alam bersama baik itu kaum pribumi Mandar, Bugis, Toraja serta Makassar. Mengapa tidak memang pada dasarnya balasan itu akan selalu datang dibelakang.
Masa proklamasi proklamasi kemerdekaan. Peradaban yang membawah bangsa kita bebas dari penjajahan yang berlarut-larut dan merupakan masa gemilangnya anak pribumi masa ini anak-anak pribumi diberikan kesempatan-kesempatannya untuk membangun negaranya sendiri. Mulai dari mengolah aspek perekonomiannya, aspek sosialnya dan pemerintahannya. Kaum pribumi ini telah menjadi tanggungan asuransi pemerintahan, perbudakan telah dihapuskan dan sekolah pun didirikan. Pendidikan yang langkah pada abad kolonialisasi kini lebih banyak diperjuangkan, betapa pentingnya pengetahuan mereka bagi pendidikan maka hal itu yang menjadikan abad ini menjadi modern. dengan membangun sekolah-sekolah yang pantas dan berhak memiliki kependidikan untuk sebuah masa depannya dengan bangunan birokratnya.
Bangunan tinggi yang menjulang lebih banyak menggambarkan symbol kekuatan abad ini. Segi militer yang canggi alat transportasi yang dulu hanya menggunakan tenaga manusia kini menggunakan tenaga mesin serta alat untuk mengolah hasil perkebunan sudah sangat mudah untuk dikerjakan di bangdingkan dulu.
Dari segi social masyarakatnya pada abad yang ketiga ini pun sudah sangat cerdas dan mampu bersaing dengan kaum pribumi yang lain mereka lebih cenderung hidup modern dan sedikit-demi sedikit nilai-nilai budaya terkikis oleh kehidupan yang berdasarkan materialisme. Abad ini bangsa pribumi tidak lagi dijajah oleh kaum imperilasme melainkan merekalah yang mampu mempermainkan kaum pribumi lainnya.
Abad ini dikatakan seluruh system pemerintahannya dijalankan oleh kekuasaan, tahta dan jabatan. Peradaban ini akan ditutup pada saat perang besar yang akan meluluhlantakan abad modern ini. Sekarang hanya bisa meihat kejadian-kejadian yang terjadi pada masa ini dengan sedikit informasi yang diketahui. Abad ini adalah jaman kesejahtraan rakyat. Zaman yang seharusnya merupakan zaman kebangkitan atas keterpurukan pada masa lalu kini hanya merupakan hukum timbal balik masa pemerintahan yang seharusnya memikirkan keterpurukan rakyatnya kini hanya sibuk memimpikan keidealan negara yang belum tentu sanggup untuk diwujudkan abad ini lebih tepat dikatakan abad kekuasaan sang pemerintahan.
Berbeda dari peradaban sebelumnya peradaban proklamasi ini adalah peradaban yang dimana penduduk pribuminya memangsa sesamannya. Peradaban ini membuka paham materialisme dimana para pejabatnya menghisap kekayaan-kekayaan yang justru untuk dibagi sesama dengan kaum pribumi lainnya. Kecerdasan memangsa moralnya mungkin itulah sebutan bagi Negara birokrat ini, nggak mungkin lagi kita mampu mengembalikan sejarah kekayaan bangsa kita karena untuk masa depannya maka akan tumbuh pula peradaban yang lebih lagi. Itulah wajah sulawesi dari dulu hingga sekarang dan itulah yang menggambarkan bahwa masih banyak yang mampu dibenahi, sebab sulawesi selatan banyak memiliki kekayaan alam dan budaya.

Komentar

Postingan Populer